Berikut taujihat dari BPK DPW PKS DKI Jakarta
Dunia da’i bukan semata dunia retorika dan permainan kata, tapi dunia pergerakan yang penuh dinamika dan gelora, membawa misi besar gemuruh perubahan yang penuh dengan tantangan dan halangan. Dunia da’i adalah dunia besar tidak hanya merubah wajah pribadi tapi wajah umat manusia, dan bahkan wajah dunia. Tidak melulu bicara tentang agama tetapi bicara tentang semua persoalan hingga menghadirkan peradaban baru yang menakjubkan. Tidak hanya berskala lokal tapi juga internasional, tidak hanya bicara dengan wilayah dunia saja tapi juga bicara dengan wilayah akhirat.
Dunia da’i adalah dunia luas menembus waktu serta melintasi jarak dan zaman yang teramat panjang.Kalau pekerjaan dunia menuntut kerja profesional, maka kerja da’wah yang janji kebaikannya tiada hitungan, tentunya menuntut kerja profesional yang lebih. Jika menyembelih persoalan sepele, kita diminta profesional ”…maka jika kalian menyembelih, sembelih dengan profesional” maka da’wah yang wilayah garapannya dunia dan akhirat tentunya kita diminta profesional pula.
Profesionalisme da’wah dalam kerja duniawi adalah bagaimana kita berupaya menyiapkan segala perbekalan secara optimal baik keilmuan yang terkait dengan ilmu-ilmu kejiwaan, profesional dalam penyajian, penggunaan fasilitas dan media guna optimalnya penyampaian nilai pada objek dakwah. Profesional secara ukhrowi bagaimana kita berusaha membersihkan niat agar selalu mencari ridho Allah swt, hingga pengorbanan dan perjuangan menjadi nikmat yang tak tertandingkan, menyelaraskan kata dan perbuatan sehingga cahaya alhaq mampu menembus kegelapan hati yang paling dalam. Da’wah profesional da’wah yang layak mendapat pertolongan dan kemenangan.
Da’i profesional memahami betul dunianya, dunia da’i difahaminya sebagai dunia perjuangan dan pengorbanan, dunia memberi bukan meminta, dunia panjang tanpa batas dan dunia terjal dipenuhi berbagai makar, namun da’i profesional memahami betul bahwa pengorbanannya di jalan da’wah tak kan pernah hilang tanpa hitungan,. Hanya da’i profesional yang mampu memahami da’wah, sementara mereka yang ingin hidup dari da’wah tak kan pernah merasakan manisnya da’wah dan perjuangan, meskipun memiliki dunia dari hasil dakwahnya.
Da’i profesional tak pernah mengeluh karena beratnya beban, tak pernah sedih karena sedikitnya hadirin dan sepinya sanjungan, tak pernah kecewa karena tak ada sambutan dan hidangan, tak akan pernah putus asa karena lama dan panjangnya perjuangan. Bekerja dan bekerja, begitulah semboyannya, ditelusurinya jalan-jalan perkampungan di tengah terik mentari dan guyuran hujan menyeru dan memanggil umat agar kembali kepada kebenaran, tidak pernah menampakkan wajah kelelahan, dan tampilan kesedihan.
Da’i profesional ke ujung gunungpun dia datang memenuhi undangan meski tanpa jemputan, mereka rela begadang membuat proyek-proyek besar penyelamatan, di tengah lelapnya masyarakat dalan keterlenaan.
Da’i profesional rela mengorbankan apa yang dimiliki demi kebaikan umat dan lingkungan. Semakin panjang jalan yang ditempuh, semakin nikmat dirasa, semakin berat medan yang dihadapi semakin membuat dirinya tertantang semakin besar pengorbanan yang diberi semakin membahagiakan, meski dalam perjalanannya membutuhkan biaya, dia tidak pernah menampakkan wajah dan belas kasihan kepad aumat, bahkan ketika diberi, dia mampu berkata, “Sesunguhnya aku tidak meminta upah kepada kalian , upahku hanya dari Allahswt”. Senandung bahagia selalu terlantun dari lisannya ketika kelalaiana dunia mengekangnya itu berucap: “Kami da’i sebelum segala seustau”. Ketika kelelahan dirasa dia berucap: “Kami sekelompok kaum yang bernikmat-nikmat dengan kelelahan dakwah. Ketika kekuasaan berda’wah dirasa dia berucap, “Tak kan mulia suatu kaum yang meninggalkan da’wah dan memburu dunia.
Meski secara ekonomi pas-pasan bahkan sering mengalami kekurangam, namun dia berani berkata lantang: “Kapan orang-orang seperti kita, bukan kapan kita seperti orang-orang”. Izzah da’i profesional tidak memudar meski uang tiada, rumah ngontrak, pakaian sederhana, makan seadanya, dan berjalan beralaskan sandal yang tak lagi layak guna. Bahkan di tengah ketiadaannya dia mampu memberi, karena dia faham siapa yang menghidupi dakwah, dia akan mulia dan siapa yang jidup dari da’wah akan hina. Ketika dia tidak mampu memberi maka cucuran air mata kesedihan tak terbendung, ada rasa tertinggal memenuhi panggilan kebaikan. Sebagian orang menicbir dan menganggapnya aneh, mencela, memfitnah, menintimidasi, menyiksa bahkan emngusir dan membunuh, namun dia tak pernah peduli,m da’i profesionalmemahami itulah jalan suci. Jalan yang dirintis para nabi.
Perjuangan panjang yang diawali keikhlasan, disemai kesabaran disirami keistiqomahan, dipupuk pengorbanan dan dirawat dengan do’a dan munajat akhirnya berbuah harapan. Perlahan tapi pasti, pohon da’wah nan indah menampakkan cikal bakalnya, bermula dari kalangan margginak, kemudian kalangan pemudan pelaja satu-persatu di anatra mereka sadar dari keterbuaiana. Mereka yang sadar merasagelisah ketika berdiam diri melihat keterpurukan, mereka bahu membahu memperkuat barisan, mengajak dan menyeru semua kalangan untuk memperkuat perjuangan. Kini pohon da’wah semakin besar, para tetua sesepuh dan tokoh ingin turut serta di dalamnya, sambutan kemenangan tidak hanya di kota, bahkan di d daerah dan pelosok pedesaan, da’wah memperlihatkan wajah segarnya.
Sang da’i kini mulai dikenal, bahkan menjadi terkenal, dirinya kini dijadikan pusat rujukan dan konsultasi, saran dan pendapatnya didengar, fatwanya dipatuhi, putusannya dituruti, belum afdhol rasanya jika sebuah kebijakan tidak melibatkan kesertaannya. Semua orang menaruh hormat, terkesima khalayak dibuatnya ketika mendengar taujihatnya, bahkan tanpa terasa terkadang air mata mengucur deras demi mendengar sentuhan wasiat sang adi. Jamaahnya kian hari kian besar, sanjungan dan pujian tak pernah putus terlontar meski sang da’i tidak meminta, sang da’i kini dijemput dan diberi uang sangu sebagai tanda hormat sang murid kepada guru. Sang da’i menolak tapi karena ”dipaksa” diapun tak mampu mengelak, hari-hari sang da’i kini dihujani sanjungan, pujian, dan fasilitas keduniaan. Pengaruh sang da’i kini menguasai publik, semua kalangan meletakkan kepercayaan kepadanya, agar sang da’i membawa misi perubahan, tidak hanya rakyat jelata yang menaruh harap, bahkan sebagian birokrat dan pejabat kini mulai mendekat, bermodalkan dukungan kini sang da’i jadi pejabat.
Dunia yang dahulu telah menaklukkan qorun, membuat ahlu badar khilaf dan ahlu uhud tercerai berai tak kan pernah membiarkan seorang pejuang untuk lepas dari jebakan pesonanya. Akankah sang da’i tetap menjadi da’i profesional atau menjadi da’i dunia, tetapi menjadi da’i profesional atau menjadi da’i dunia, waktu yang akan membuktikannya, apakah dia menjadi pejuang aqidah atau pejuang kepentingan. Dunia dahulu dan dunia kini masih digdayanya untuk mengecoh dan mengelabui pewaris nabi, akankah sang da’i mampu belajar dari pengalaman atau tidak. Namun sebagian dari kita sering belajar dari pengalaman, bahwa kita tidak belajar dari pengalaman. Anda’i kemenangan menjadikan sang da’i lebih dekat kepada sang Kholiq, lebih bersyukur dan menambah ketawadhu’an, serta menjadikan para kader pendukungnya ridho dan masyarakat semakin dekat dengan Allah swt maka ketahuilah sang da’i memang profesional, akan tetapi jika yang terjadi sebaliknya, maka sang da’i kini telah menjadi da’i dunia.
Na’udzubillah..
Dunia Da'i & Da'i Dunia
Label: Artikel Islami
Rahasia 1 Syawal
Dengan datangnya 1 Syawal, otomatis bulan Ramadhan telah pergi. Pergi meninggalkan kita, untuk kemudian datang lagi di tahun yang akan datang. Kita tidak tahu apakah kelak akan bertemu lagi dengan Ramadhan, atau ternyata ini adalah Ramadhan yang terakhir. Banyak suadara kita yang sebenarnya ingin menikmati Ramadhan tahun ini, tetapi ternyata ajal segera menjemptnya beberapa detik sebelum memasukinya. Karenanya kita sangat bersyukur bahwa Allah swt. telah memberikan kesempatan kepada kita bisa bertemu dengan Ramadhan tahun ini.
Benar 1 Syawal telah tiba. Dan kita tidak serta merta gembira, karena di saat yang sama kita harus berpisah dengan Ramadhan. Perpisahan yang sangat mengharukan. Bayangkan selama Ramadhan kita telah mendapatkan suasana yang dalam, di mana kita dihantarkan kepada nuansa ketaatan yang tak terhingga. Nafsu yang selama ini diagungkan manusia, ternyata dengan Ramadhan, nafsu ini tidak berdaya. Setan yang selama ini sangat kuat menguasai manusia, ternyata dengan Ramadhan tersingkirkan. Kita bisa setiap saat membaca Al Qur’an selama Ramadhan, di mana di luar Ramadhan itu sangat sulit kita lakukan. Di malam hari kita selalu bangun sebelum fajar dan shalat subuh berjamaah di masjid, padahal itu sangat sedikit yang melakukannya di luar Ramadhan. Pun tangan kita terasa ringan berinfak selama Ramadhan, sementara di luar Ramadhan itu sangat berat dilakukan. Lebih jauh, kita bisa beri’tikaf -atau minimal selalu di masjid sepanjang malam- terutama pada 10 malam terakhir Ramadhan, dan kita tahu bahwa itu sangat jarang dapat kita lakukan di luar Ramadhan.
Berpisah dengan Ramadhan memang tidak dapat dibandingkan dengan perpisahan yang lain. Berpisah dengan Ramadhan adalah perpisahan dengan suasana ruhani yang sangat kental dan menguatkan iman. Itulah yang membuat airmata harus menetes. Menetes bukan karena kesedihan murahan, yang datang dari sentuhan emosional belaka. Melainkan menetes kerena kesedihan yang memancar dari gelora iman. Menetes karena takut bila setelah Ramadhan suasana keimanan itu melemah kembali tergerogoti dosa-dosa. Takut kalau lidah kita ini berat kembali bertasbih dan membaca Al Qur’an. Takut kalau malam-malam kita kembali diwarnai tawa dan hiburan yang melalaikan. Takut kalau hati ini kembali keras dan sulit menerima sentuhan ayat-ayat Al Qur’an. Karena itu kita berdoa, semoga kita bisa bertemu lagi dengan Ramadhan di tahun yang akan datang.
Tapi apapun, tanggal 1 Syawal telah datang. Kita harus menerima kenyataan. Hari Raya adalah hari kegembiraan bagi setiap yang beriman. Gembira karena telah berhasil melepaskan dosa-dosa selama Ramadhan. Gembira karena telah menang terhadap setan dan hawa nafsu. Karena itu kegembiraan ini jangan disambut dengan gelora nafsu belaka. Ingat bahwa setan seringkali masuk melalui nafsu makan. Karena itu, bila nafsu makan dibuka, setan selalu menang menguasai manusia. Oleh sebab itu, begitu Ramadhan pergi, pemandangan durjana seringkali begitu mudah bermunculan. Allah swt. dalam surah An Nashr mengingatkan, bahwa kemenangan tidak pantas disambut dengan tawa dan nafsu. Kemenangan harus disambut dengan tasbih, tahmid, tahlil, dan istighfar. Benar kita harus menyebut kemenagan fitri ini dengan tasbih tahmid, tahlil dan istighfar. Dengarkan Allah berfirman: fasabbih bihamdika rabbika wastaggfir, innahuua kaana tawwabaa.
Oleh karena itu, 1 Syawal bukan hari pembebasan sebebas-bebasnya. Melainkan hari pertama kita mulai terjun ke medan pertarungan melawan hawa nafsu dan setan, seteleh sebulan penuh kita berbekal iman dan kekuatan ruhani. Karena itu kita harus menang. Kita harus kendalikan nafsu itu ke arah yang positif, bukan malah dikendalikan nafsu ke arah yang buruk. Kita harus bergegas dalam kebaikan-kebaikan seperti kita dalam suasana Ramadhan. Bila kita kalah berarti perbekalan kita selama Ramadhan tidak maksimal. Tidak sungguh - sungguh. Tidak sedikit dari saudara-saudara kita seiman, yang langsung KO justru pada tanggal 1 Syawal. Artinya, begitu mereka masuk bulan Syawal seketika itu mereka terperosok dalam gelimang dosa.
Nabi saw. tidak ingin kita kalah lagi. Itulah rahasia mengapa kita disunnahkan menambah puasa lagi minimal 6 hari di antara bulan Syawal. Nabi bersabda: bahwa siapa yang menambah puasa 6 hari di bulan Syawal, ia akan mendapatkan pahala puasa setahun, seperti pahala puasa yang didapat umat-umat terdahulu. Mengapa puasa Syawal? Ini suatau isyarat bahwa kita harus terus mempertahnkan diri seperti dalam suasana Ramadhan. Suasana di mana kita tetap dekat kepada Allah swt. Sebab seorang yang menahan nafsunya, tidak akan didekati setan. Bila setan menjauh maka malaikat mendekatinya. Bila malaikat mendekatinya otomatis ia akan semakin dekat kepada Allah. Ingat bahwa seorang yang dekat kepada Allah, ia akan mendapat keutamaan yang luar biasa: tidak saja doa-nya mustajab, melainkan lebih dari itu ia akan dijauhkan dari rasa sedih dan galau. Allah befirman: “alaa inna awliyaa Allahi laa khawfun ‘alaihim walaa hum yahazanuun (ketahuilah bahwa orang-orang yang dekat kepada Allah mereka tidak akan mendapatkan rasa takut atau kekhawatiran dan tidak akan pernah dirundung kesedihan).”
Terakhir, pada 1 Syawal kali ini marilah kita sama-sama membuka hati, buang jauh segala penyakit dengki dan hasud di hati, bersihkan jiwa kita dari berbagai beban penyakit, sayangi diri kita dengan meningkatkan iman bukan dengan memanjakan diri dalam dosa-dosa. Mari kira saling mengucapakan: Selamat hari raya, taqabbalahhu minnaa waminkum shaalihal a’maali, wa kullu ‘aamin wa antum bikhairin (semoga Allah menerima amal-amal baik kita, dan semoga dalam semua hari-hari sepanjang tahun kita selalu dalam kebaikan). Amin. Wallahu a’lam bishshowab.
Label: Artikel Islami
Keutamaan Puasa Enam Hari Bulan Syawal
Puasa enam hari bulan Syawal selepas mengerjakan puasa wajib bulan Ramadhan adalah amalan sunnat yang dianjurkan bukan wajib. Seorang muslim dianjurkan mengerjakan puasa enam hari bulan Syawal. Banyak sekali keutamaan dan pahala yang besar bagi puasa ini. Diantaranya, barangsiapa yang mengerjakannya niscaya dituliskan baginya puasa satu tahun penuh (jika ia berpuasa pada bulan Ramadhan). Sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits shahih dari Abu Ayyub Radhiyallahu 'Anhu bahwa Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam bersabda:
"Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan lalu diiringinya dengan puasa enam hari bulan Syawal, berarti ia telah berpuasa setahun penuh." (HR. Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa'i dan Ibnu Majah)
Rasulullah telah menjabarkan lewat sabda beliau:
"Barangsiapa mengerjakan puasa enam hari bulan Syawal selepas 'Iedul Fitri berarti ia telah menyempurnakan puasa setahun penuh. Dan setiap kebaikan diganjar sepuluh kali lipat."
Dalam sebuah riwayat berbunyi:
"Allah telah melipatgandakan setiap kebaikan dengan sepuluh kali lipat. Puasa bulan Ramadhan setara dengan berpuasa sebanyak sepuluh bulan. Dan puasa enam hari bulan Syawal yang menggenapkannya satu tahun." (HR. An-Nasa'i dan Ibnu Majah dan dicantumkan dalam Shahih At-Targhib).
Ibnu Khuzaimah meriwayatkan dengan lafazh:
"Puasa bulan Ramadhan setara dengan puasa sepuluh bulan. Sedang puasa enam hari bulan Syawal setara dengan puasa dua bulan. Itulah puasa setahun penuh."
Para ahli fiqih madzhab Hambali dan Syafi'i menegaskan bahwa puasa enam hari bulan Syawal selepas mengerjakan puasa Ramadhan setara dengan puasa setahun penuh, karena pelipat gandaan pahala secara umum juga berlaku pada puasa-puasa sunnat. Dan juga setiap kebaikan dilipat gandakan pahalanya sepuluh kali lipat.
Salah satu faidah terpenting dari pelaksanaan puasa enam hari bulan Syawal ini adalah menutupi kekurangan puasa wajib pada bulan Ramadhan. Sebab puasa yang kita lakukan pada bulan Ramadhan pasti tidak terlepas dari kekurangan atau dosa yang dapat mengurangi keutamaannya. Pada hari kiamat nanti akan diambil pahala puasa sunnat tersebut untuk menutupi kekurangan puasa wajib.
Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam :
"Amal ibadah yang pertama kali di hisab pada Hari Kiamat adalah shalat. Allah Ta'ala berkata kepada malaikat -sedang Dia Maha Mengetahui tentangnya-: "Periksalah ibadah shalat hamba-hamba-Ku, apakah sempurna ataukah kurang. Jika sempurna maka pahalanya ditulis utuh sempurna. Jika kurang, maka Allah memerintahkan malaikat: "Periksalah apakah hamba-Ku itu mengerjakan shalat-shalat sunnat? Jika ia mengerjakannya maka tutupilah kekurangan shalat wajibnya dengan shalat sunnat itu." Begitu pulalah dengan amal-amal ibadah lainnya." (HR. Abu Dawud)
Wallahu a'lam.
Label: Artikel Islami
Kat Kiat Mengisi Ramadhan
> Memperlambat sahur dan mempercepat berbuka puasa
> Banyak melakukan infaq sodaqoh
> Tilawatul Qur'an (membaca Qur'an) serta mempelajarinya (tadabbur)
> Tingkatkan pemahaman agama dengan membaca tulisan-tulisan atau buku-buku agama
> Meningkatkan disiplin dan muroqobatullah (perasaan bahwa Allah mengawasi kita)
> Hidupkan malam dengan shalat tarawih dan Qiyamullail
> Menjauhkan diri dari sebab-sebab yang dapat mendekatkan diri pada kemaksiatan seperti pergaulan, bacaan, tontonan
> Memberikan makanan berbuka kepada orang-orang yang melakukan puasa, terutama bagi mereka yang kesulitan seperti fakir miskin, orang-orang yang berada dalam perjalanan
> Berdzikir pada setiap kesempatan (duduk, berdiri, dan berbaring)
> Membuat skala prioritas segala aktivitas yang dapat mendekatkan diri pada Allah
> Perbanyaklah aktivitas yang berhubungan dengan kegiatan amal yang bersifat sosial bagi orang-orang yang lemah, fakir miskin, anak yatim, kegiatan dakwah, dll
> Berusaha untuk saling menjaga hati dan sikap untuk menyempurnakan puasa kita, menjaga pandangan dan bagi wanita diharapkan untuk berpakaian lebih tertutup minimal selama bulan Ramadhan
> Beri'tikaf (berdiam diri dengan tujuan mendekatkan diri pada Allah dan menyempurnakan amal ibadah kita) terutama pada 10 malam terakhir.
Note : Apabila mungkin tundalah aktivitas-aktivitas yang tidak berhubungan dengan kegiatan ukhrawi di sepuluh terakhir Ramadhan dan prioritaskan waktu-waktu ini untuk banyak melakukan ibadah dengan penuh kekhusyuan.Mengambil cuti kantor akan lebih baik pada hari-hari di sepuluh terakhir Ramadhan sehingga ibadah dan bermunajat kepada Allah dapat diperhebat atau untuk ber'itikaf di masjid.
Dengan kita mengetahui keistimewaan yang begitu besar yang diberikan oleh Allah pada bulan Ramadhan, kita berharap dapat bersama-sama mengisi Ramadhan dengan segala aktivitas yang dapat bernilai ibadah disisi Allah, karena Ramadhan hanya datang sekali dalam setahun dan siapakah yang dapat menjamin bahwa kita masih diberi kesempatan oleh Allah untuk bisa menikmati Ramadhan-Ramadhan yang akan datang, mungkin saja ramadhan ini adalah ramadhan terakhir bagi kita, untuk itu janganlah kita lewatkan kesempatan yang berharga ini, janganlah Ramadhan ini lewat dengan sia-sia, tanpa memberikan arti bagi kita, sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah : "Mereka tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga".
Semoga kita terhindar dari apa yang diisyaratkan Rasulullah tersebut.
(Wallahu'alam bishowab).
Alhaqqu mirrobik falaa takuu nanna minal mumtarin.
Label: Artikel Ramadhan
The True Power Of Water
Dan Kami ciptakan dari air segala sesuatu yang hidup." (Q.S. Al Anbiya:30)
Dalam kitab-kitab tafsir klasik, ayat tadi diartikan bahwa tanpa air semua akan mati kehausan. Tetapi di Jepang, Dr. Masaru Em oto dari Universitas Yokohama dengan tekun melakukan penelitian tentang perilaku air.
Air murni dari mata air di Pulau Honshu didoakan secara agama Shinto, lalu didinginkan sampai -5oC di laboratorium, lantas difoto dengan mikroskop elektron dengan kamera kecepatan tinggi. Ternyata molekul air membentuk kristal segi enam yang indah. Percobaan diulangi dengan membacakan kata, "Arigato (terima kasih dalam bahasa Jepang)" di depan botol air tadi. Kristal kembali membentuk sangat indah. Lalu dicoba dengan menghadapkan tulisan huruf Jepang, "Arigato". Kristal membentuk dengan keindahan yang sama. Selanjutnya ditunjukkan kata "setan", kristal berbentuk buruk. Diputarkan musik Symphony Mozart, kristal muncul berbentuk bunga. Ketika musik heavy metal diperdengarkan, kristal hancur.
Ketika 500 orang berkonsentrasi memusatkan pesan "peace" di depan sebotol air, kristal air tadi mengembang bercabang-cabang dengan indahnya. Dan ketika dicoba dibacakan doa Islam, kristal bersegi enam dengan lima cabang daun muncul berkilauan. Subhanallah.
Dr. Emoto akhirnya berkeliling dunia melakukan percobaan dengan air di Swiss, Berlin, Prancis, Palestina, dan ia kemudian diundang ke Markas Besar PBB di New York untuk mempresentasikan temuannya pada bulan Maret 2005 lalu. Ternyata air bisa "mendengar" kata-kata, bisa "membaca" tulisan, dan bisa "mengerti" pesan. Dalam bukunya The Hidden Message in Water, Dr. Masaru Emoto menguraikan bahwa air bersifat bisa merekam pesan, seperti pita magnetik atau compact disk.
Semakin kuat konsentrasi pemberi pesan, semakin dalam pesan tercetak di air. Air bisa mentransfer pesan tadi melalui molekul air yang lain. Barangkali temuan ini bisa menjelaskan, kenapa air putih yang didoakan bisa menyembuhkan si sakit. Dulu ini kita anggap musyrik, atau paling sedikit kita anggap sekadar sugesti, tetapi ternyata molekul air itu menangkap pesan doa kesembuhan, menyimpannya, lalu vibrasinya merambat kepada molekul air lain yang ada di tubuh si sakit.
Tubuh manusia memang 75% terdiri atas air. Otak 74,5% air. Darah 82% air. Tulang yang keras pun mengandung 22% air. Air putih galon di rumah, bisa setiap hari didoakan dengan khusyu kepada Allah, agar anak yang meminumnya saleh, sehat, dan cerdas, dan agar suami yang meminum tetap setia. Air tadi akan berproses di tubuh meneruskan pesan kepada air di otak dan pembuluh darah. Dengan izin Allah, pesan tadi akan dilaksanakan tubuh tanpa kita sadari. Bila air minum di suatu kota didoakan dengan serius untuk kesalehan, insya Allah semua penduduk yang meminumnya akan menjadi baik dan tidak beringas.
Rasulullah saw. bersabda, "Zamzam lima syuriba lahu", "Air zamzam akan melaksanakan pesan dan niat yang meminumnya". Barangsiapa minum supaya kenyang, dia akan kenyang. Barangsiapa minum untuk menyembuhkan sakit, dia akan sembuh. Subhanallah ... Pantaslah air zamzam begitu berkhasiat karena dia menyimpan pesan doa jutaan manusia selama ribuan tahun sejak Nabi Ibrahim a.s.
Bila kita renungkan berpuluh ayat Al Quran tentang air, kita akan tersentak bahwa Allah rupanya selalu menarik perhatian kita kepada air.
Bahwa air tidak sekadar benda mati. Dia menyimpan kekuatan, daya rekam, daya penyembuh, dan sifat-sifat aneh lagi yang menunggu disingkap manusia. Islam adalah agama yang paling melekat dengan air. Shalat wajib perlu air wudlu 5 kali sehari. Habis bercampur, suami istri wajib mandi. Mati pun wajib dimandikan. Tidak ada agama lain yang menyuruh memandikan jenazah, malahan ada yang dibakar. Tetapi kita belum melakukan zikir air. Kita masih perlakukan air tanpa respek. Kita buang secara mubazir, bahkan kita cemari. Astaghfirullah.
Seorang ilmuwan Jepang telah merintis. Ilmuwan muslim harus melanjutkan kajian kehidupan ini berdasarkan Al Quran dan hadis.
Wallahu a'lam ...
Label: Artikel Bebas
Nasyid "Cengeng" Bikin Aktivis Mellow..???
Glek! Nah lo?! Ah yang bener??!! Masa sich??!!
Ehm..Ehm...
Well...Well...Ok Fren, topik bahasan qta kali ni adalah NASYID! Siapa yang suka nasyid?? Hayooo acungkan jariii...!! 1, 2, 3, 10, 100....Wah ternyata banyak juga ya yang suka nasyid..!! Suka menyenandungkan ato dengerin doank??
Yuupz! nasyid dibuat sebagai sarana mensosialisasikan nilai-nilai Islam. Kenapa nasyid?? Karena nasyid bisa dilakukan di mana saja, kapan saja, dan oleh siapa saja! Saat dalam perjalanan, rebahan di kamar, sambil masak, jaga toko, nunggu angkot, ngetik, dan lain sebagainya! Asal jangan di kamar mandi ato pas lagi da kajian (halaqoh, liqo', ta'lim...en semua majlis ilmu) karna yang didenger bisa nggak nyambung tuh. Dari yang tua sampe yang muda, yang kaya sampe yang miskin, cewek or cowok, semua boleh bernasyid! (eit! khusus buat akhwat/cewek, dilarang bertralala-trilili di depan ikhwan/cowok, karena suara anti tuh aurat Mbak! Kalo di depan Bokap, Paman, Saudara kandung laki2, ato suami sich gak masalaaaah...suit..suit!).
Nah, dengan nasyid, islam mudah tersebar di berbagai kalangan. Masyarakat qta yang notabene senang ngadain acara-acara hajatan, seperti: walimahan, khitanan, aqiqahan, en peringatan-peringatan laennya, cenderung menggunakan musik sebagai hiburan. Qta nich (para Da'i) belum bisa memaksa mereka untuk diam tanpa bunyi-bunyian ato memutar murottal terus-terusan. dari pada yang diputar lagu-lagu bernuansa jahili yang menebar aroma kemungkaran en kesyirikan (misal: dangdutan! watthhaaawww....!! nggak bangettz deehh...), akhirnya dipilihlah nasyid sebagai alternatif sekaligus sarana mensyi'arkan nilai-nilai Islam.
Para ulama tempoe doeloe pun menggubah sya'ir yang kemudian disenandungkan (nadzom) untuk mengemas ilmu-ilmu yang sulit dihafalkan. Ada Muhatul i'rab, Al 'imrithi, Alfiyah Ibnu Malik (dalam ilmu nahwu), Alfiyah 'Iraqi dan Alfiyah As Suyuthi (dalam ilmu hadist), dan Matan Zubad (dalam ilmu fiqh). Meskipun ada perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam hal musik, tapi bukan itu yang akan qta bahas.
Oke, lanjuut...Di belantara musik anak negeri, nasyid pun gak ketinggalan ikut ambil bagian. Berbagai tema nasyid bermunculan. Ada yang menceritakan keagungan Allah SWT, keindahan alam ciptaan-Nya, Ma'rifatullah, Tauhidullah, Iman kepada Malaikat, Kitab-kitab Allah, Cinta Rasul, Dzikrul Maut, Ukhuwah, Akhlaq, dsb, dst, dll. Jenis aliran musik yang dipake pun bervariasi. Dari yang aliran garis keras (nuansa haroki) sampe yang aliran slow down baby (ops! sowri jiddan, maksud ana Pop), bahkan ada yang nge-Rapp, Hip-Hop ato R & B. But, ada juga nasyid yang memilih tidak diiringi musik (acapella). Sayangnya, sekarang dah jarang banget tuh yang pake acapella, dah banyak yang hijrah ke alat musik karena dirasa kurang efektif, padahal kreatif!.
Fren, tau nggak, ternyata jenis musik yang qta sukain bisa memengaruhi sikap en karakter pribadi seseorang. Nggak percaya??! Seorang mahasiswa psikologi di sebuah PTN (Suchi Ramadhani) mengadakan sebuah penelitian mengenai pengaruh musik terhadap perilaku. Ia mengamati seorang gadis cilik berusia 15 tahun, Ummy. Gadis ini sejak kecil suka sekali mendengarkan musik sekaligus menyanyi. Hanya saja ia berani mengekspresikan lagu dimulai dari umur 13 tahun. Karena jenis-jenis musik banyak, ia lebih suka musik Rock. Musik Rock cenderung mempengaruhi emosi yang tinggi dan lebih pantas yang menyukai musik ini adalah laki-laki. Karena ia seorang gadis, maka hampir seluruh tingkah laku dan penampilannya menyerupai laki-laki. Contoh : Ketika ia menyetir motor sambil mendengarkan musik Rock, pasti mengendarai motornya kencang. Sebaliknya ketika ia sambil mendengarkan musik yang slow mengendarai motornya melambat.
HASIL : Musik dapat berpengaruh dari berbagai aspek yaitu :
1. Dapat mempengaruhi tingkah laku dan kepribadian
2. Dapat mempengaruhi tingkat emosional
3. Dapat mempengaruhi perkembangan kosa kata pada anak usia 1-5 tahun
4. Dapat mempengaruhi penampilan
5. Dapat melatih kepekaan pendengaran
6. Musik sebagai tempat pelampiasan emosional
7. Dapat menyeimbangkan antara fungsi otak kanan dan kiri, sehingga menjadi cerdas dalam berkreativitas
8. Berfungsi sebagai taktik dalam mencari keuntungan pada sebuah restoran yang menggunakan musik-musik yang slow atau romantis, sehinggga para pengunjung merasa nyaman dan menjadi banyak pengunjung.
Kang Asep Syamsul M. Romli dalam bukunya, "Kembalikan Nasyid pada Khittahnya" juga bermisi mengembalikan nasyid menjadi nasyid sejati, yakni nasyid yang memotivasi para mujahid di medan dakwah dan jihad, motivasi amal saleh, mendekatkan diri pada Allah Swt, seperti nasyid yang ada pada masa Rasulullah Saw. Buku ini sebagai “gugatan” bagi nasyid-nasyid kontemporer yang “cengeng” dan banyak “bertema asmara” layaknya lagu pop! Misalnya nich, tema-tema nasyid percintaan dalam bingkai pernikahan yang sering didengar ikhwan akhwat yang belum merit, akibatnya mereka jadi ngebet pengen nikah padahal belum ada bekal en persiapan untuk menuju ke jenjang walimah. Nah lo??! Kan Gaswat tuh! akibatnya akan ngefek pada kerja dakwahnya. Virus Merah Jambu semakin menyebar. Coba kalo yang didengerin nasyid haroki-nya Shoutul Harokah, maka yang nyebar bukan lagi VMJ tapi VMS (Virus Merah Saga)! Allahu Akbarr!!
Well..Well..Singkatnya, karakter seseorang itu, salah satunya, bisa dilihat dari jenis musik yang ia sukai. Kalo yang sering didenger tuh jenis nasyid haroki penambah semangat, karakternya cenderung ke militan en semangat pula. Sebaliknya, kalo yang dia sukai nasyid-nasyid cengeng en mellow, maka kemungkinan besar tipe-nya pun melankolis. Trus, kalo dua-duanya suka? Hmm...Maka bisa jadi aktivis LemPer "Lembut Tapi Perkasa!", kayak ana! (lho..lho..lho..). Gimana Fren, sepakat nggak sama pendapat ana?? (Nggaaaakkk!!). Terserah deh! Sepakat ato nggak, pokoknya harus sepakat!! (hehe..mokso!), nggak ding...tu cuma analisis ana aza koq. Toh semua boleh berpendapat...Up to u!
Jadi gini Fren, bukannya ana ngelarang antum/na semua dengerin nasyid mellow, tapi mbok ya dikurangin porsinya. Ojo berlebih! Kan masih banyak tuh tema2 nasyid yang bisa bikin qta tambah deket lagi ma Allah, bikin mengingat akhirat, bikin semangat jihad, bikin semangat menegakkan Al Haqq, bikin hidup lebih hidup! Yaaah...dengerin sie boleeeh, sekali-kali. Sekadarnya aja lah. Kata Raihan kan, "berhibur tiada salahnya/kerna hiburan itu indah/hanya pabila salah memilihnya/membuat kita jadi merana".
Nasyid kami adalah pelita
Penerang kegelapan dunia
Penyinar jiwa-jiwa mujahadah
Melangkah tegak gapai syahadah
Nasyid kami adalah bara api
Pembakar peradaban jahili
Penyinar jiwa-jiwa mukmin sejati
Segera menunaikan tugas suci
Kibarkan panji Islam agar ia meninggi
Tebar cahyanya di muka bumi
Lantangkan seruannya agar membahana
Jangan engkau terpedaya kilau cahaya dunia
Keindahannya tipuan semata
(Nasyid kami, Izzatul Islam)
Label: Artikel Islami