Awas, Facebook Menjebak Sodara Dalam Term Of Use nya..!!!

Pernahkah sodara iseng membaca Term of Use, atau bahasa Indonesianya "Ketentuan Pemakaian/Perjanjian penggunaan Facebook (selanjutnya akan saya namakan pesbuk) yang sering sodara gunakan itu?"

Hari ini, saya dapat email dari temen, untuk mencoba membaca satau persatu pasal apsal yang disodorkan kepada kita, ketika pertama kali menggunakan pesbuk (sodara boleh menolaknya, dan tentunya sodara tidak bisa menggunakan pesbuk).

Nah, setelah saya baca baca, saya menemukan bahwa kita memang harus hati hati bila memposting sesuatu pada pesbuk kita.

Ini langkahnya:
1. Log in ke pesbuk sodara

2. Lihat bagin bawah, dengan tulisan kecil kecil tulisan Term, klik tulisan ituh

3. Sodara akan diantarkan ke halaman Term of Use dari Pesbuk, dan coba baca satu persatu.

4. Nah di Term of Use, pada bagian "User Content Posted on the Site" lihat di alenia kedua

5. Nah pada alenia kedua sodara akan mendapatkan tulisan ini
“When you post User Content to the Site, you authorize and direct us to make such copies thereof as we deem necessary in order to facilitate the posting and storage of the User Content on the Site. By posting User Content to any part of the Site, you automatically grant, and you represent and warrant that you have the right to grant, to the Company an irrevocable, perpetual, non-exclusive, transferable, fully paid, worldwide license (with the right to sublicense) to use, copy, publicly perform, publicly display, reformat, translate, excerpt (in whole or in part) and distribute such User Content for any purpose, commercial, advertising, or otherwise, on or in connection with the Site or the promotion thereof, to prepare derivative works of, or incorporate into other works, such User Content, and to grant and authorize sublicenses of the foregoing. You may remove your User Content from the Site at any time. If you choose to remove your User Content, the license granted above will automatically expire, however you acknowledge that the Company may retain archived copies of your User Content. Facebook does not assert any ownership over your User Content; rather, as between us and you, subject to the rights granted to us in these Terms, you retain full ownership of all of your User Content and any intellectual property rights or other proprietary rights associated with your User Content.”

6. Coba terjemahkan tulisan diatas tadi

7. Nah, kurang lebihnya, dari tulisan diatas, anda beratrti telah setuju untuk "Saat anda posting sesuatu baik gambar atau apapaun kedalam pesbuk, maka sodara berarti telah mengijinkan pesbuk untuk mengkopi untuk tujuan apapun. dngan memposting sesuatu kedalam pesbuk, maka secara otomatis sodara telah memberikannya pada pesbuk, dimana tidak dapat ditarik kembali, terus menerus, non eksklusip, dapat dipindah tangankan, dianggap lunas dan selesai, untuk dipergunakan dimanapun di seluruh dunia, untuk dikopi, ditampilken pada publik, reformat, dikutip (seluruhnya atau sebagian saja) dan didistribusikan untuk tujuan apapun, secara komersial, iklan dan sebagainya. Jika sodara memutuskan untuk menghapusnya, pesbuk dapat menyimpan kopinya dan mempergunakan untuk tujuan apapun"

7. Sekarang anda sudah membaca pasal apa/perjanjian apa yang telah sodara setujui, sehingga sodara boleh memakai pesbuk, jadi KEPUTUSAN DITANGAN ANDA..!!! Apakah masih mau memposting data data privat di pesbuk dan layanan lainnya tanpa terlebih dahulu membaca perjanjiannya.

8. Dan yang membuat saya aneh dan CURIGA, kenapa pasal yang saya kutip diatas, ketika saya mau mencoba mengeprint nya langsung dari Firefox saya, maka pasal tersebut tidak bisa tercetak????? dan hanya tercetak 2 lembar dengan pasal pasal atau bagian bagian yang tidak krusial????? jadi????

Kalo mau mencoba, Silahkan..!!!

Selengkapnya....

Sentuhan Sang Kuli Pasar

Kuli angkut itu terus berjalan memanggul beban. Memanggul dan memanggul. Di pasar Baghdad, di tepian sungai Dajlah yang membelah kota peradaban itu, ia mencari hidup. Bila dhuha menyingsing, ia berhenti sejenak. Pergi ke tepian sungai untuk berwudhu. Lalu shalat dhuha, memohon kepada Allah Yang Maha Meneguhkan.

Usai shalat ia melanjutkan kerjanya. Menjelang dzuhur ia menerima upah yang ia pergunakan untuk membeli roti. Lalu pergi ke tepian sungai Dajlah. Di sana ia makan, lalu minum dari sungai yang airnya sangat jernih. Sesudah shalat Dzuhur, ia melanjutkan kembali kerjanya. Menjadi kuli angkut. Bila sore tiba, ia pergi ke sungai berwudhu, shalat Ashar, lalu melanjutkan kembali kerjanya.

Tanpa disadari, telah beberapa hari kehidupan kuli itu menjadi perhatian anak seorang khalifah. Ali bin Al-Makmun.
Ali mengamati tingkah laku kuli pasar itu dari atas menara istana ayahnya. Dari atas menara itu, segala aktifitas orang – orang di pasar itu terlihat jelas. Termasuk apa yang selalu dilakukan kuli itu.

Setelah beberapa hari, ia meminta pengawal agar memanggil kuli pasar itu ke istana.

“Apa pekerjaanmu?” Tanya anak khalifah.
“Aku bekerja bersama hamba – hamba Allah di bumi Allah.”
“Aku telah mengamati kamu, dan melihat beratnya pekerjaanmu. Maukah kamu hidup bersamaku? Bawalah keluargamu. Di sini kamu bisa makan, istirahat, tidak ada kesedihan, tidak ada duka, tidak ada kegalauan.”
“Wahai putra khalifah, sesungguhnya tidak ada kegalauan bagi orang yang tidak bermaksiat, tidak ada kesedihan bagi orang yang tidak berbuat buruk. Adapun orang yang hari – harinya dilalui kemarahan dari Allah, bermaksiat kepada Allah, maka dialah yang merasakan galau, sedih, dan duka.”

Putra khalifah, yang tumbuh di istana itu terus bertanya tentang keluarganya. Dan terus memintanya agar mau tinggal bersamanya. Tetapi kuli angkut di pasar Baghdad itu tidak mau. Ia mengatakan, bahwa setiap sore, ia kumpulkan upahnya di sore hari. Untuk membeli roti dan di bawa pulang. Sebab, ibunya yang sudah renta dan saudara perempuannya yang buta selalu berpuasa. Bila sore tiba, mereka menunggu buka dari lelaki kuli itu.

“Maka kami berbuka bersama, lalu tidur.”
“Jadi kapan kamu bangun?” tanya sang anak khalifah
“Pada saat Allah turuh ke langit bumi (sepertiga malam terakhir).”
“Apakah kamu punya hutang atau tanggungan?”
“Ya, dosa – dosa yang belum aku tebus di sisi Allah,” jawab sang kuli itu.

Anak pengusaha itu begitu tergugah. Beberapa hari sesudah pertemuan itu, ia memutuskan untuk pergi. Ia berpesan kepada pembantunya, “Setelah tiga hari kepergianku, sampaikan kepada ayahku bahwa aku pergi dan kita bertemu di hari perhitungan kelak.”

Ia mengganti pakaian kebesarannya sebagai keluarga khalifah. Lalu memakai pakaian biasa. Ia pergi dan bergaul dengan orang – orang yang ada di pasar. Dan, juga memulai bekerja sebagai kuli angkut. Tidak seorang pun tahu bahwa ia adalah anak khalifah. Tidak juga kuli yang telah diundangnya ke istana.

Sejak itu ia punya jadwal ibadah yang rutin, seperti yang ia saksikan pada sosok kuli angkut yang mempengaruhi jiwanya. Termasuk berpuasa pada senin dan kamis. Pagi sebelum bekerja ia menghafal Al-Qur’an. Bila dhuha tiba, ia pergi ke sungai Dajlah, lalu berwudhu dan shalat. Begitu seterusnya. Ia sangat merasakan nikmatnya upah satu hari yang ia pergunakan untuk membeli roti.

Waktu terus berjalan. Suatu hari ia jatuh sakit. Ketika merasa ajalnya sudah dekat, ia sampaikan pesan kepada pedagang tempatnya bekerja menjadi kuli.

“Bila aku mati, tolong urus jenazahku, setelah engkau makamkan aku, maka kirimkan cincin ini kepada Khalifah Al-Makmun.”

Betapa terkejutnya sang khalifah setelah mengetahui anaknya sudah meninggal. Ia menangis, begitu juga para pengawalnya.



Ini adalah kisah tentang sentuhan kuli yang menggugah jiwa anak pengusaha. Ini adalah sentuhan kuli yang mengubah jalan hidup anak khalifah. Sentuhan itu tidak mengubahnya lari dari dunia secara ekstrim, seperti pelarian orang – orang salah. Tidak. Sentuhan itu mengubahnya menjadi pekerja keras yang bisa menikmati jerih payahnya dengan sangat nikmat. Sebab, betapa banyak dari kita, yang memburu apa – apa yang mungkin bisa kita miliki tetapi tidak pernah bisa kita nikmati. Lebih dari itu, sentuhan itu membuatnya memiliki kesempatan untuk bermunajat kepada Allah, menghafal Al-Qur’an, bekal yang menyemangati kembali hidupnya menyongsong hidup sesudah hidup. Sentuhan itu telah memberinya dorongan kuat untuk menempuh ritme hidup yang lebih berkualitas.

Wa Allahu ‘Alam Bis Showab

Selengkapnya....

Karenamu, Ujian Itu Semakin....

Penting untuk diketahui suami istri, bahwa hidup adalah suatu seni kemungkinan, hendaknya masing – masing ridha dengan apa yang telah Allah berikan dan berusaha untuk mencapai sesuatu yang lebih baik pada batasan yang memungkinkan. (Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid)

Ummu Sulaim bintu Milhan nama wanita itu. Ia yang dinikahi Abu Thalhah Al Anshari dengan mahar keislaman calon suaminya. Kisah agung pernikahan suci mereka berlanjut hingga saat mereka sudah dikaruniai putra. Para penulis hadits mengabadikan kisah sakitnya putra semata mayang dari kedua pasangan mulia ini. Ya, kisah ini memberikan hikmah yang dalam dan pelajaran yang, tinggi kepada siapapun yang mencari teladan.

Suatu hari, putra Abu Thalhah dan Ummu Sulaim sakit keras. Semakin hari semakin parah saja tampaknya, sedangkan Abu Thalhah harus tetap menjalankan usaha perniagaannya. Allah berkehendak mengambil kembali anak kecil itu dari kehidupan Abu Thalhah dan Ummu Sulaim ketika sang ayah tak ada di rumah.

Ummu Sulaim berkata kepada keluarganya, "Janganlah kalian memberitahukan kepada Abu Thalhah akan kematian putra kesayangannya. Biar aku sendiri yang akan menyampaikannya." Jasad sang putera pun ditempatkan di ruangan tertutup.

Kemudian Ummu Sulaim mengenakan busananya yang paling bagus. Dia merias dirinya secantik mungkin dan memasak makanan istimewa kesukaan Abu Thalhah. Ketika pulang, Abu Thalhah segera menanyakan bagaimana keadaan sang putera yang ditinggalkan dalam kondisi sakit.

Ummu Sulaim menjawab, "Dia sekarang jauh lebih tenang daripada sebelumnya." Jawaban ini sangat melegakan bagi Abu Thalhah, padahal tentu yang dimaksud Ummu Sulaim 'lebih tenang daripada sebelumnya' berbeda dari pemahaman Abu Thalhah.

Karena merasa tenang, maka Abu Thalhah menyantap makanan yang telah dihidangkan oleh isterinya. Setelah itu sang isteri memperlakukannya dengan sangat mesra layaknya pengantin barn. Lalu 'shadaqah' pun selesai ditunaikan Abu Thalhah, hingga ia merasa tenang dan tenteram. Luar biasa wanita ini. la pun sebenarnya dirundung duka begitu dalam, tetapi ia ingin agar beban kesedihan dan nestapa yang akan segera didengar suaminya agak terkurangi dengan sambutannya malam ini.

"Wahai Aba Thalhah...", kata Ummu Sulaim kemudian. "Bagaimana pendapatmu, sekiranya ada seseorang yang menitipkan sesuatu kepada orang lain untuk suatu masa tertentu. Kemudian ketika si pemilik itu hendak mengambil barangnya kembali, patutkah jika orang yang dititipi itu keberatan?"

"Sebenarnya tidak boleh begitu", kata Abu Thalhah. "Ia wajib untuk segera mengembalikan barang itu kepada pemiliknya dengan penuh keikhlasan. Bukankah barang itu memang bukan miliknya?"

Ummu Sulaim kemudian mengatakan, "Kalau begitu, ketahuilah bahwa putra kita adalah milik Allah yang dititipkan kepada kita. Ikhlaskanlah putramu, karena kini Sang Pemilik telah mengambil barang titipannya."

Abu Thalhah marah dan dongkol sekali. Bagaimana bisa tadi dia makan dengan sangat lahap kemudian bermesraan bagaikan pengantin baru padahal putera terkasihnya terbujur kaku di kamar sebelah. "Mengapa baru sekarang kau katakan? Mengapa sejak tadi kau diam saja? Sampai – sampai keadaan kita berdua sudah seperti ini."

Paginya dengan menahan kesedihan, keharuan, dan kejengkelan pada isterinya, Abu Thalhah pergi menemui Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Dia laporkan apa yang telah dilakukan Ummu Sulaim kepadanya. Sungguh agung, Rasul mulia itu justru bersabda: "Pengantinankah kalian berdua semalam? Mudah – mudahan Allah memberikan barakahNya untuk kalian berdua pada malam yang telah kalian lalui bersama."

Benarlah yang beliau sabdakan. Tak lama kemudian Ummu Sulaim mengandung dan ketika lahir, sang bayi ini diberi nama 'Abdullah. Perawi hadits ini berkomentar, "Aku telah mendapatkan informasi bahwa Abdullah memiliki sembilan orang putera yang kesemuanya adalah Qari’ penghafal Al Quran. Inilah barakah malam itu. Inilah yang dilahirkan oleh seorang wanita mukminah lagi shalihah." (HR Al Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud)

Pelajaran indah apalagi yang kita dapat setelah membaca kisah Ummu Sulaim ini? Lihatlah bagaimana ketegaran seorang isteri seperti Ummu Sulaim dan kecerdasannya menyikapi kondisi. Luar biasa! Ia tak panik, meratap, dan pilu mendapati kematian putra kesayangan. Ia justru berusaha menjadi orang yang paling tenang dan menenangkan, orang yang paling kuat dan menguatkan, orang yang paling tegar dan meneguhkan.

Bayangkan jika kita sedang lelah – lelahnya pulang dari bepergian, lalu di depan kita ada wanita menangis tanpa kita tahu sebabnya.

Bayangkan di tengah penat yang serasa memutus urat, bukan pijatan lembut tapi berita duka yang di dapat.

Bayangkan jika setelah perjalanan yang membuat kta merindukan canda anak – anak, justru tubuh terbujur kaku yang kita saksikan.

Ummu Sulaim Radhiyallahu 'Anha, betapa mulianya pribadi ini. Ia tidak berkata apapun apalagi menangis meraung di depan suaminya yang sedang sangat lelah, dipenuhi kekhawatiran, dan gelisah. Ia justru hidangkan yang terbaik, berdandan dengan cantik, serat memberikan waktu dan dirinya agar sang suami kenyang, tenang, puas, dan rileks. Dalam kondisi emosi suami yang stabil, baru ia sampaikan berita itu dengan bahasa yang sangat empatik. Perumpamaan yang sungguh membuat sang suami tak bisa berkata apa – apa, "Ikhlaskanlah putramu, karena kini Sang Pemilik telah mengambil barang titipan-Nya."

Subhanallah…

Wa Allahu ‘Alam Bis Showab

Selengkapnya....

Valentine Lagi..??? Cape Dech..!!!

“Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Ahmad dan Abu)

Membicarakan valentine day sulit lepas dari kata pacaran. Tak perlu banyak debat, insya Allah. Kita semua sudah banyak mendapati bahasan bahwa perayaan ini berasal dari agama paragnisme yang najis lalu dihidup - hidupkan oleh pemuka - pemuka agama Nasrani yang bodoh dan seenak perut mereka menentukan tatacara ibadah. Kini ia menjadi alat kapitalisme untuk memasarkan produknya dengan memeras para remaja.

Hanya ada dua jenis manusia yang merayakan valentine: kapitalisme yang keji, dan orang bodoh yang tertindas. Materialisme - kapitalisme memang sedang mengepung kita. Mengajarkan bahwa kemuliaan dinilai dengan kekayaan dan harta.

“Adapun manusia apabila Rabbnya menguji, lalu ia dimuliakan, dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata, “Rabbku memuliakanku...” Adapun bila Rabbnya menguji lalu membatasi rizqinya, dia berkata, “Rabbku menghinakanku...” (Al Fajr : 15 – 16)

Tak perlu kita menjadi korban, apalagi dengan memboroskan milik kita. Cinta yang sehat mengajarkan untuk mempersiapkan masa depan kita penuh rencana, karena engkau akan memiliki keluarga yang akan kau pertanggung jawabkan nafkahnya di hadapan Allah.

“Sesungguhnya pemboros - pemboros itu adalah saudara - saudara syaithan, dan syaithan itu sangat ingkar kepada Rabbnya.” (Al Israa’ : 27)

Valentine, Bukan Budaya Kita Loh...

Kan boleh, cuma sekedar ikut merayakan saja. Bukankah ini hari kasih sayang sedunia yang universal..??? Mungkin sebagian dari kamu berdalih begitu.

Oke, tapi bagi kaum muslimin, kita udah diwanti-wanti sama Allah Swt. : “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS Al Israa’ : 36)

Nah, inilah uniknya Islam. Tidak ada yang namanya sekadar ikut, cuma ngikut atau ikut - ikutan saja. Sebelum melakukan suatu perbuatan, sebagai muslim, kita harus paham apa dan bagaimana Islam menyikapinya. Ini mendidik kamu, para remaja muslim, agar tidak menjadi generasi pembebek. Generasi yang bisanya cuma ikut - ikutan tanpa tahu ilmunya. Islam mengajak kamu untuk cerdas dalam menyikapi sesuatu.


Saat Ku Katakan Padamu, “Be My Valentine”

Saatnya kita mencampakkan budaya yang jelas - jelas nggak memberi manfaat apa pun pada kita, kaum muslimin. Kalo hanya dengan alasan kasih sayang, Islam adalah sumber dan muara kasih sayang itu sendiri. Mulai dari haramnya aborsi karena setiap anak punya hak hidup, naluri sayang seorang ibu juga dijaga agar tidak dirusak oleh paham atas nama kebebasan. Begitu juga dengan penghargaaan seorang anak yang tinggi untuk menghormati ibu dan bapaknya. Nggak ada konsep penitipan panti jompo dalam Islam. Toh, betapa pun tuanya orangtua kita, merekalah yang dulu pernah melahirkan dan membesarkan kita dengan kasih sayang. Betul kan?

Hubungan laki-laki dan perempuan bila ingin berkasih-sayang, ada sarananya. Pernikahan. Di sinilah satu sama lain diajari untuk mengenal kasih-sayang sejati yang diikuti tanggung jawab. Bukan hanya bisa memberi bunga, coklat dan boneka tanpa berani berkomitmen dan maunya sekadar pacaran mulu. Tapi Islam mengajarkan cowok untuk jadi laki-laki sejati, begitu dengan para cewek. Jangan mau digombali hanya dengan rayuan tak bermutu.

Mereka yang suka gembar gembor Valentine’s Day dan kasih sayang, malah mereka juga yang enggan untuk melindungi dan menyayangi bumi. Contohnya, Amerika tuh yang menolak peduli terhadap efek global warming atau pemanasan global. Ozon yang semakin menipis karena efek rumah kaca, toh itu juga banyak berasal dari negaranya yang penuh dengan gedung bertingkat dan pemakaian freon secara berlebihan.

Kalau sudah begini, kamu masih percaya dengan Valentine’s Day adalah hari kasih sayang? Universal pula? Naif banget kalo iya. Cukup Islam saja sebagai tolok ukur dalam seluruh perbuatan kita. Insya Allah pasti selamat dunia-akhirat. Dijamin!

So, mari kita campakkan Valentine dan ambil Islam saja sebagai the way of life yang penuh kasih sayang. Yuk, kaji Islam biar cerdas dan takwa.

Wa Allahu 'Alam Bis Showab

Selengkapnya....

Mengubah Masalah Menjadi Energi

Masalah akan selalu ada, itu pasti. Karena hidup ini sesungguhnya, hanyalah perpindahan dari satu masalah kepada masalah yang lain. Lapar adalah masalah, maka kita harus mencari makanan untuk menghilangkan rasa lapar. Kantuk adalah masalah, maka kita harus tidur untuk melepaskan rasa kantuk. Lelah adalah masalah, maka kita harus beristirahat agar kita bisa semangat lagi dalam bekerja. Begitulah seterusnya.

Masalah, bagi orang yang selalu melihat sesuatu dengan kacamata negatif adalah beban, kesulitan, pesimisme. Tapi bagi orang yang yang memiliki kepedulian dan sensifitas memberi, masalah adalah tantangan. Masalah adalah motivasi. Masalah adalah optimisme. Mengapa? Karena masalah tidak hanya menyimpan petaka, tetapi juga dia menyediakan ruang yang luas untuk memberi, berkontribusi, agar ada maslahat yang diciptakan. Karena itu, masalah harus dilihat dari banyak sisi agar ia bisa diubah menjadi kekuatan.

Rasulullah pernah mengingatkan kita, “Perumpamaan orang yang menjaga dan menerapkan peraturan Allah seperti kelompok penumpang kapal yang mengundi tempat duduk mereka. Sebagian mereka mendapat tempat di bagian atas, dan sebagian yang lain di bagian bawah. Penumpang bagian bawah, jika mereka membutuhkan air, maka harus berjalan melewati bagian atas kapal. Maka mereka pun berujar, “Bagaimana jika kami lubangi saja bagian bawah kapal ini (untuk mendapatkan air), toh hal itu tidak akan menyakiti orang yang berada di bagian atas.” Jika kalian biarkan mereka berbuat menurut keinginan mereka itu, maka binasalah mereka dan seluruh penumpang kapal itu. Tetapi jika kalian cegah mereka, maka selamatlah mereka dan seluruh penumpang yang lain.”

Kapal bisa saja tenggelam jika orang yang ada di bagian bawah kapal melubangi kapal untuk mendapatkan air. Hal itu tidak akan terjadi jika orang yang di bagian atas kapal mengetahui kebutuhan orang yang berada di bagian bawah kapal.

Karena itulah kita perlu memberikan kontribusi dengan kemampuan dan keahlian kita, pada satu masalah yang memang kita mengerti. Sebab, mencampuri masalah yang tidak kita mengerti, bukan saja tidak akan selesai tapi mungkin justru akan membuatnya semakin rumit. Rasulullah sendiri telah menegaskan, bahwa jika sebuah urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya maka yang akan terjadi adalah kehancuran. Maka, cukuplah sabda Rasulullah itu sebagai panduan, agar kita tidak memperparah masalah yang ada dengan memberikan komentar-komentar yang salah bahkan menyesatkan.

Wa Allahu ‘Alam Bis Showab

Selengkapnya....

Jika Esok....

Rasulullah SAW bersabda, "Orang yang paling cerdas adalah orang yang paling sering mengingat kematian. Setiap waktu yang berlalu seakan menjadi langkah terakhir. Beramal untuk akhiratmu, bersikap terbaik untuk sesamamu."

Matahari yang membuka hari selalu menjadi alasan untuk mengisi hari. Mengisi hari dengan segala sikap dan sifat yang sudah kita bawa sebelumnya, tanpa pernah menghiraukan apa yang akan terjadi esok. Membiarkan rasa sakit menjadi bagian yang kita beri untuk orang lain. Membiarkan rasa acuh menjadi kebiasaan yang terkadang tanpa terasa juga terberi untuk orang lain.

Matahari yang masih membuka hari memang menjadi alasan untuk menjalani hari dengan apa adanya. Menjalani sekedar mengikuti angin berhembus, membiarkan suara hati dikalahkan nafsu duniawi.

Tapi, pernahkah terbesit jika esok matahari sudah tidak dapat bersinar lagi? Pernahkah terbesit detik penutup hari ini, menjadi detik penutup usia kita juga? Pernahkah terbesit bahwa jika esok kita tak akan berjumpa dengan orang-orang yang sudah menyapa dan tersenyum untuk kita? Pernahkah terbesit bahwa jika esok kita kan kehilangan orang kita kasihi dan mengasihi kita? Pernahkah terbesit waktu yang berlari bersama kita harus berhenti karena ketetapanNya?

Jika esok tak pernah datang, apakah engkau masih membiarkan waktu berlalu tanpa arti? Jika esok tak pernah datang, apakah engkau masih berdiri di sini terdiam tanpa pernah mengucapkan terima kasih dan rasa syukur?

Jika esok tak pernah datang, apakah engkau masih terdiam jika ada yang bertanya kepadamu? Jika esok tak pernah datang, apakah engkau masih mengacuhkan suara hatimu perwujudan nuranimu?

Jika esok tak pernah datang, apakah engkau masih melewatkan waktumu tanpa pernah memahami semua waktu yang berlalu untukmu? Jika esok tak pernah datang, apakah engkau masih belum bermuhasabah sebelum hari akhir datang menjemputmu?

Jika esok tak pernah datang, maukah engkau berjanji untuk dirimu sendiri untuk melakukan yang terbaik sepenuh hati kepada orang lain ketika detik itu memberimu kesempatan? Jika esok tak pernah datang, maukah engkau menemani dan mengingatkanku bahwa umur kita terbatas?

Jika esok tak pernah datang...
Aah, apakah harus menunggu esok hari?

Selengkapnya....
Betapa inginnya kami agar umat ini mengetahui bahwa mereka lebih kami cintai daripada diri kami sendiri. Kami berbangga ketika jiwa-jiwa kami gugur sebagai penebus bagi kehormatan mereka, jika memang tebusan itu yang diperlukan. Tiada sesuatu yang membuat kami bersikap seperti ini, selain rasa cinta yang telah mengharu-biru hati kami, menguasai perasaan kami, memeras habis air mata kami, dan mencabut rasa ingin tidur dari pelupuk mata kami. Sungguh, kami berbuat di jalan Allah SWT untuk kemaslahatan seluruh manusia, lebih banyak dari apa yang kami lakukan untuk kepentingan diri kami. Kami adalah milik kalian wahai saudara-saudara tercinta. Sesaat kami tak akan pernah menjadi musuh kalian. [Hasan Al-Banna]




Hidup mengajari kita tentang makna bersyukur di fajar hari, juga tentang kerja keras di terik siang, tersenyum saat senja menjelang, serta merasa damai ketika terlelap dalam malam. DIA tahu lelahnya ragamu hari ini, DIA juga tahu berkurangnya jatah bersantai yang harus kau nikmati. DIA sangat tahu, bahkan lebih dari yang kau tahu, tapi kau harus tetap tersenyum, karena ternyata senyummu telah terbalas oleh-Nya.




Jangan memandang sebelah mata mereka yang saat ini terlarut dalam lalai, karena kita tak pernah tahu, esok atau lusa justru mereka lebih mulia di antara kita. Jangan berhenti berdoa dan saling mengingatan. Jangan pernah pandang sebelah mata mereka yang terbatas ilmunya, karena kita tak pernah tahu, justru merekalah yg paling banyak amalnya diantara kita. Sesungguhnya ilmu tanpa amal bagai petir yang tak menghasilkan hujan. Jangan berhenti untuk belajar dan beramal. Sesungguhnya bukan mata itu yang buta tapi hati yang ada di dalam dada. Selamat melepas pakaian kesombonganmu. Selamat mencintai siapa pun karena Allah.




Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan saudara tanpa harga. Alangkah nikmatnya tautan hati yang terjalin nyaris tanpa kusut, mengalir sempurna ibarat air dari ketinggian, tak peduli panas atau hujan. Walau ia bukan sosok yang sempurna tapi ia akan tetap mengalun sesuai melodinya. Tanpa cela, tanpa noda, tulus dengan ketulusannya serta indah dengan segala keindahannya. Semoga ukhuwah ini tetap terjaga sampai ke jannah-Nya.




Yaa Rabb, sesungguhnya Engkau yang menggerakkan hati mereka untuk mencintaiku, maka kuatkan dan tetapkanlah hatiku agar tak lalai akan cinta-Mu. Yaa Rabb, sesungguhnya Kau yang mengirimkan mereka sebagai pelindungku, maka kuatkan langkahku untuk teguh memegang agama-Mu. Yaa Rabb sesungguhnya Kau yang memberikan waktu untukku, maka ingatkanlah aku bahwa kematian akan datang menemuiku kapan saja. Yaa Rabb, jika malam ini napasku berhembus tak kan ku dustakan cinta-Mu, tak kan ku lalaikan amanah dari-Mu dan tak kan ku siakan waktu dari-Mu. Maka ampuni aku yaa Rabb. Dan jika esok Kau masih berkenan kembali membangunkanku, tolong tegur aku untuk tetap teguh berjuang hanya untuk-Mu.

Arrahmah.Com

Award Pertama

Isi ini yaa..!!!


ShoutMix chat widget